Ibuku Manusia Pembohong Dalam Hidupku
Setelah kurang lebih 26 tahun aku dilahirkan dari rahim seorang perempuan desa, aku baru nyadar, ternyata Ibuku adalah seorang pembohong besar, pembual ulung. Setiap hari Dia selalu membohongiku. Setiap kita ngobrol, dua, sampai lima kali, Ibu menyempatkan dirinya untuk berbohong.
Entah, apakah karena setengah usia ku aku jauh dari Ibu, atau apa, sehingga aku baru tahu, kalau selama ini, perempuan yang telah melahirkan ku itu, sangat lihai dalam hal membohongi aku (dan kakak-kakak), anak nya. Atau mungkin aku yang selama ini tidak pernah mencari tahu, apa Ibu itu pembohong besar, atau orang jujur.
Setelah aku beranjak besar dan dewasa secara usia, baru aku nyadar, selama aku hidup, kurang lebih 26 tahun, selama itu pula Ibu senantiasa membohongi ku. Bahkan tidak menutup kemungkinan, Kakak-kakak ku juga menjadi korban dari kebohongannya.
Dari sekian banyak kebohongan yang Ibu sembunyiim dari aku adalah, Dia tidak pernah mengatakan, “Nak, Ibu punya hutang untuk biaya sekolah kamu dulu…” jelas, ini adalah kebohongan. Aku tahu Ibu punya hutang, ketika tanpa sengaja, aku lewat rumah seorang tetangga, disana ternyata ada Ibu sedang ngobrol dengan tetangga, Ibu minta maaf kepada tetangga, karena setelah sekian lama, Ibu masih belum bisa mengganti utang bekas aku sekolah dulu.
Kebohongan yang kedua, ketika Ibu dapat giliran di Kakaku dan keluarganya, setelah makanan hasil masakan Ibu matang, baru ¼ Ibu melahap nasi, Ibu berhenti, padahal jelas-jelas 3-5 suap, belum bisa membuat perut Ibu kenyang. Ketika di tanya Kakak, Dia ngomong “Ibu udah kenyang. Tadi waktu masak, Ibu banyak nyicipin masakan. Jadi sekarang sudah kenyang” Aku berani taruhan, sehebat-hebatnya orang nyicipin masakan, tidak akan pernah bisa mengenyangkan, meskipun itu, perut seorang yang sudah berumur setenngah abad lebih. Lagi-lagi Ibu berbohong. Dia menghentikan makan bejamaah denga Keluarga Kakaku, bukan karena benar-benar kenyang, namun satu yang jadi alasan. Ibu inget aku, apakah aku udah makan…. Selapar apapun Ibu, ketika inget itu, Dia akan mendadak tidak selera makan, meskipun perut perih….Ibu pembohong………..
Sering kali ibu nelepon, dan sesering itu pula, suara Ibu kadang-kadang berubah… kadang kala ceria, kadang kala suaranya agat tersendat. Ketika aku lontarkan “Ibu sakit?” dengan jiwa pembohongnya, Ibu ngejawab… “Enggak, tadi idung Ibu agak kemasukan debu, gara-gara ayam…..” padahal jelas, suara orang yang idungnya tersumbat debu, dengan orang yang jelas-jelas dalam keadaan kurang fit, sangat berbeda… Tapi demi tidak membuat aku, anaknya khawatir…lagi-lagi Ibu berbohong….
Bahkan mungkin, waktu aku masih SD, ketika aku pulang sekolah, dan secara kebetulan Ibu pulang dari sawah dalam keadaan haus, Ibu juga sudah berbohong.. “Silahkan Nak minum, Ibu tidak haus….” Ketika malam datang, dengan kondisi badan yang sudah lelah, untuk kesekian kalinya Ibu berbohong…” Tidurlah Nak, dah malem, seharian tadi sekolah, cape, biar besok segar lagi. Ibu tidak ngantuk….” padahal jelas-jelas, Dia seharian berada di sawah. Malam hari semestinya digunakan untuk istirahat, tidur, tapi, dengan penuh cintanya, Dia menyetrika seragam sekolah ku dengan setrika arang, dan menyiapkan buku-buku untuk besok. Pagi hari, lagi-lagi tidak bosen-bosennya, Ibu berbohong… “Sarapan dulu, Nak…biar pelajarnnya cepet masuk, Ibu sudah sarapan tadi pas kamu masih tidur…” padahal jelas-jelas, belum ada tanda-tanda bekas Ibu bikin sarapan di dapur kayu itu.
Dan sungguh, masih sangat banyak kebohongan-kebohongan yang dilakukan Ibu dari aku… dan sangat tidak menutup kemungkina, Ibu akan terus berbohong…. Kebohongan-kebohongan yang demi hanya melihat aku senang. Ibu tidak peduli dengan kondisi dirinya…. Ibu, yang sudah 26 tahun lebih, melahirkan kan ku, rela sakit, rela lapar, rela meminta belas kasihan dari tetangga yang baik hati, yang telah memberikan pinjaman duwit untuk biaya sekolahku dulu, untuk memberikan waktu tenggang….
Pemberian yang tak pernah mengarapkan imbalan dari aku (dan kakak-kakak ku), anaknya…………
Aku berjanji, untuk belajar menjadi pembohong seperti Ibu berbohong kepada ku….


3 kali baca tulisan ini…tiga kali aku merasakan hal yang sama…tiga kali pula aku aku merasa berbohong itu “baik”
hmmm….
Aku berlindung kepada Tuhan, apapun yang terjadi, Aku tidak akan menitipkan IBU, sang wakil “TUHAN” di PANTI-PANTI tempat “manusia-manusia” DAPRET itu “Membuang” Sang MAhluk MULIA, IBU… Na’udzu billah…tsumma na’udzu billahi min dzalik…
inin…………………………….
hiks……..belajarlah jadi pembohong seperti ibumu, aku ku mungkin akan begitu suatu hari nanti….
Amiin, Mba D-Wee…
Aku yakin, Mba d-wEE, punya peluang besar akan lebih bisa lagi….
Terima kasih Mba D-wee…
ibu inspirasi dalm hidup..trmksh dengan membaca blog ini aku makin menyayangi ibuku,,,,
Sama-sama Mba Rose…