Puasa lah Nak… Agar Kamu Jadi yang menghargai perbedaan…(Madzhab Cinta)
Puasa, seyogyanya bisa menjadikan ‘pelakunya’ lebih peka terhadap sesama. Dengan lapar dan haus yang dirasakan pada siang hari, selama satu bulan penuh, diharapkan menjadi api yang bisa mematangkan emosi dari orang yang mengerjakannya. Ya, mematangkan emosi dari si shoim dan shoimah. Bisa memahami dan membiarkan atas nama perbedaan kepada orang lain yang tidak sepaham dengan kita, untuk berjalan sebagaimana keyakinan yang dipeluknya.
Dengan rasa dahaga dan haus yang dirasakan sejak subuh sampai dengan maghrib, diharapkan lahir sebuah ‘mahluk’ yang bernama sympathy dan empaty kepada sesama. Di tengah-tengah menahan haus dan dahaga, sementara di sekitar kita ada sebagian yang tidak berpuasa, karena memang diperbolehkan, menjadikan kita mampu memanaj emosi, sehingga tidak lahir sebgai emosi yang berdampak kepada hal-hal yang negative (lawwamah).
Puasa kita hanya cukup untuk puasa, karena memang itu sudah diwajibkan kepada kita sebagai Hamba-Nya. Kurang ‘pas’ sepertinya ketika kita menuntut ini itu untuk puasa kita.. biarkanlah mereka tidak puasa, mereka makan disiang hari, dan bahkan mungkin sebagian warung makan buka disiang hari. Jadikanlah itu semua menjadi satu keindahan dari puasa yang kita jalani…
Kalaupun berharap itu diperbolehkan, yakinlah janji gusti Alloh itu hak, bahwa akan ada kebahagian bagi orang-orang yang berpuasa…ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Allah… cukup hanya itu….
Bukankah dengan kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain untuk berpuasa dan atau menutup warng di siang hari itu, akan menyakiti mereka? Terlebih dengan tindakan-tindakan yang identik dengan kekerasan… Ah, kurang mengena rasanya kita dengan tujuan puasa untuk menahan diri bukan sajah dari haus dan dahaga, melainkan juga nafsu (lawwamah)…
Tanamkanlah husnudzon¸ bahwa mereka membuka warung nasi untuk menyediakan musafir, perempuan haidh, dan saudara-saudara kita yang memang tidak diwajibkan untuk berpuasa.. Untuk meng klaim mereka kafir? Terlalu jauh saya rasa,karena itu bukan kafasitas kita. Nanti Tuhan marah, karena kita sudah merasa menjadi Tuhan untuk memutuskan suatu perkara…
Memang benar, kita dianjurkan (atau bahkan diharuskan) untuk meneladani salah satu asmaul husna, tapi tidak lantas semuanya kita terapkan dalam diri kita. Karena ál Mutakabbir itu bukan seragam kita…. Rahman dan rahim, adalah nama-nama selain al-mutakabbir dalam asmaul husna yang bisa kita praktekkan untuk sesame, bukan hanya sesama manusia, tapi juga sesama makhluk Tuhan… Karena merekapun memiliki hak untuk mendapatkan kasih dan sayang…..
Wallahu a’lam

